
Halooooo~ Apa kabar Kimono Lovers se-Nusantara? Semoga sehat dan ceria selalu ya!
Coba deh, kita lihat barang antik lainnya, misalnya vas cantik dari era Dinasti Ming, atau perhiasan vintage nenek moyang. Biasanya, barang-barang itu berakhir manis di dalam etalase kaca, dikagumi dari jauh, atau malah disimpan dalam kotak gelap karena takut rusak.
Tapi, buat saya, Kimono Antik itu BEDA!
Kimono klasik itu seperti karya seni yang dibuat untuk bergerak, untuk bersinar, dan untuk dirasakan auranya saat sedang dipakai. Menyimpannya dalam kegelapan? Sayonara! Mending kita ajak jalan-jalan dan bikin kenangan baru dengannya! ✨
π Kenalan dengan Si Elegan: Kuro Tomesode Kami π€
Kimono hitam cantik yang saya pakai di foto ini namanya Kuro Tomesode (ι»ηθ’). Denger namanya aja udah tercium aroma formalitas tingkat dewa!
Secara tradisional, Tomesode adalah:
Pakaian paling formal untuk wanita yang sudah menikah.
Dipakai untuk acara super formal seperti resepsi pernikahan keluarga dekat atau wedding anniversary (setara tuxedo atau four-piece suit untuk pria!).
Selalu punya 5 kamon/ crest (lambang keluarga) yang dijahit di tempat tertentu. Kamon ini dulunya menunjukkan asal klan, tapi sekarang? Bebas aja dong mau pakai kamon klan mana! (Saya sih suka membayangkan pakai kamon keluarga Oda atau Tokugawa sekalian, haha! π)


π¨ Melanggar Aturan demi Cinta: Tomesode Goes Kasual! π¨
Formalitas Tomesode itu mengharuskan dia dipasangkan dengan obi fukuro (obi formal) yang banyak benang metaliknya. Tapi, saya?
Saya memakainya untuk nonton film dan makan omakase! π£πΏ
Ya, betul. Saya melanggar hampir semua aturan fashion kimono formal:
TPO (Time, Place, Occasion) yang BEDA JAUH: Dari resepsi pernikahan ke studio bioskop dan meja makan. Who cares!
Obi yang Tidak Formal: Saya pakai obi nagoya (obi semi-formal) yang bahkan tidak ada benang emasnya. Lho, kenapa tidak?
Kapan lagi saya bisa mengeluarkan si cantik ini dari lemari kalau saya tidak menciptakan alasannya sendiri, kan? Mari kita beri Tomesode ini lebih banyak cinta dan pengalaman! Kalau cuma dikagumi di etalase, dia juga sedih lho!


π Melihat Lebih Dekat Keindahan Tomesode Antik
Meskipun memakainya butuh extra effort dan kehati-hatian, keindahan Tomesode antik ini benar-benar bikin jatuh cinta:
Lining Merah Menyala: Coba deh intip foto 6! Meskipun luarnya hitam legam, bagian lining-nya (lapisan dalam) berwarna merah oranye yang luar biasa cerah! Orang Jepang itu memang gelo (kreatif gila) banget ya, bahkan bagian dalam yang tersembunyi pun diberi perhatian ekstra.
Motif Penuh Makna: Motif-motif di Tomesode ini bukan sekadar bunga. Mereka adalah simbol! Ada Burung Crane (sejenis bangau, simbol keberuntungan dan umur panjang), Plum Blossom, Chrysanthemum, dan Paulownia.
Keunikan Desain Antik: Motifnya sering berbentuk pencerminan; sisi kiri dan kanan bawah identik, menciptakan komposisi yang simetris dan dramatis.
Kimono Berlapis Tanpa Lapisan: Kimono ini tidak memiliki lapisan Hiyoku. Apa itu? Hiyoku adalah lapisan dalam yang membuat Tomesode seolah-olah berlapis-lapis (sama seperti date eri di kimono lain, tapi ini istilah khusus Tomesode). Tanpa Hiyoku pun, Tomesode ini tetap terasa anggun dan berlapis.
⚠️ Tantangan Memakai Si Antik ⚠️
Tomesode ini memang manja dan butuh perlakuan khusus karena usianya:
Ukuran Kecil: Ukuran kimono antik relatif kecil, membuat membentuk Ohashori (lipatan di pinggang) jadi perjuangan ekstra.
Rapuh: Kainnya fragile! Sedikit salah tarik, bisa sobek. Mesti super hati-hati saat melakukan kitsuke!
Warna Pudar: Warna hitamnya tidak lagi hitam gelap sempurna, tapi justru itu yang memberinya charm klasik yang unik.
Meskipun demikian, setiap momen memakainya terasa sangat berharga. Saya pasti akan mencari kesempatan lain untuk mengajak Tomesode ini jalan-jalan lagi!
Gimana, kalian terinspirasi buat mengeluarkan "harta karun" di lemari juga? Atau mau coba sensasi pakai Kimono Antik? Yuk, sharing di kolom komentar! π
#rentalkimono #kimonojogja #yukatarental #kimonorental #kitsuke #kimono #sewakimono #sewakimonojogja #kimonoday





Comments
Post a Comment